Chapter 79

 Seol Jungyeon pelan-pelan membuka pintu kabin lalu melangkah keluar. Angin menyapu pipinya. Berbeda dari sebelumnya, bukan lagi angin dingin yang menusuk, melainkan hembusan hangat yang menenangkan.

Ia berjalan di atas salju tanpa meninggalkan jejak apa pun. Sejak awal, dia adalah pendekar yang naik ke posisi Cheonma atau jika disetarakan dengan peringkat kekuatan di Bumi, seorang superhuman peringkat SSS. Jadi bahkan tanpa berusaha, teknik menghapus jejak (踏雪無痕) mengalir alami baginya.

Seol Jungyeon duduk di atas sebuah batu di lereng bukit sambil menatap matahari terbit yang menembus sela awan. Wajahnya tampak lebih cerah daripada sebelumnya.

“Haa…”

Saat ia menghembuskan napas, uap hangat mengisi udara.

Sejujurnya, jika dulu ada kesempatan untuk mengakhiri hidupnya, ia akan melakukannya tanpa ragu.

Pernah ada masa ketika Supreme Cheonma memimpin kaumnya sendiri. Jalan yang ia tapaki perlahan menjadi kehendaknya, dan mimpinya tersebar ke seluruh dunia. Namun dalam proses itu, ia kehilangan begitu banyak rekan. Mereka adalah orang-orang yang tak pernah gentar bahkan di hadapan kematian. Dan setiap dari mereka selalu meninggalkan kata yang sama.

“Wujudkan mimpimu.”

Kapan itu? Ingatan dari tempat yang begitu jauh hingga kini tak lagi jelas.

“Aku ingin kamu berjalan di jalanmu sendiri, mengejar mimpimu sendiri. Kamu tak perlu menapaki jalan penuh derita sepertiku, tak perlu memikul bebanku. Tolong… wujudkan mimpimu.”

Itulah kata-kata terakhir dari orang yang paling berjasa dalam hidupnya.

Namun, ia tak punya mimpi untuk dirinya sendiri. Karena itu, ia menjadikan mimpi Supreme Cheonma yang telah wafat sebagai mimpinya, mimpi menjadikan Sekte Cheonma pusat dunia.

Dan mimpi itu runtuh.

Sekte Cheonma hancur lebur, dan dirinya, bukti terakhir dari keberadaan mereka disegel inner qi-nya.

Ia dikurung di sebuah ruang terpencil seluas sekitar sepuluh pyeong, tanpa kontak manusia, bahkan tanpa kebebasan untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Setiap hari terasa seperti neraka. Semua yang berharga baginya lenyap. Ia tak lagi punya alasan untuk hidup, tapi bahkan kematian pun tak diizinkan baginya. Itulah sebabnya ia menangis setiap hari selama empat tahun terakhir.

'Jika neraka itu ada… mungkinkah rasanya seperti ini?'

Tak peduli seberapa sering ia memohon Dharma untuk membunuhnya, ia menolak dan malah mengajukan kesepakatan yang lebih kejam daripada neraka yang sedang ia jalani.

Ia diminta meletakkan dan meninggalkan nama Cheonma, inti dari keberadaannya, lalu hidup sebagai wanita biasa. Adakah hal yang lebih mengerikan dari itu?

“Aku lebih baik mati daripada melepaskan nama Cheonma.”

Begitulah..sambil bertahan hidup dengan sisa-sisa yang hampir tak ada, suatu hari seekor kupu-kupu perak misterius terbang masuk lewat jendela dan berkata,

--- Aku akan datang kepadamu.

Jantungnya berdegup kencang. Harapan yang telah lama terlupakan untuk meninggalkan gunung salju terkutuk ini kembali menyala. Ia tak lagi memimpikan Sekte Cheonma.

Cheonma, tidak. Seol Jungyeon akhirnya bisa bermimpi untuk dirinya sendiri.

--- Bagaimana harimu hari ini?

--- Aku makan ramyeon untuk sarapan.

--- Itu hadiah dari temanku.

--- Cuacanya bagus di sini.

Selama lima tahun, Seol Jungyeon tak pernah melakukan percakapan normal termasuk empat tahun ia dikurung di Murim. Paling-paling, itu hanya pertengkaran sepihak dengan Dharma, musuh abadinya.

Ia berpegangan mati-matian pada kupu-kupu perak itu dan hidup dengan kecemasan baru.

'Bagaimana kalau dia mulai membenciku dan pergi?'

Ia tak ingin kembali ke neraka kesepian itu lagi. Ia ingin seseorang untuk diajak bicara dan ingin bisa berbicara dengan seseorang.

'Kenapa ia baru menyadari perasaan ini sekarang?'

Ia begitu bahagia melihat dirinya sebagai seorang manusia, bukan sebagai Cheonma.

Seol Jungyeon menunggu hari yang dinanti itu sambil membaca pesan-pesan dari seorang pria yang bahkan wajahnya pun tak ia ketahui. Tanpa ia sadari, rasa rindu di dadanya kian menguat.

Namun, di sudut hatinya, ada keraguan.

'Bisakah aku mempertahankan kebahagiaan ini?'

Supreme Dharma telah mencapai alam Pejuang Langit tingkatan di atas dirinya. Bahkan jika seluruh Murim melawannya, peluang menang tetap tipis. Bagaimana mungkin ia bisa luput dari pandangan eksistensi seperti itu?

'Apa ini benar-benar mungkin? Atau aku hanya berpegang pada harapan yang mustahil?'

Harapan itu lemah seperti nyala lilin di tengah badai.

Namun Seol Jungyeon menolak melepaskannya. Bukan karena tekad, melainkan karena harapan itu satu-satunya hal yang masih bisa ia percayai. Ia sudah siap mati jika semuanya gagal, jadi ia menangkup nyala lilin itu dengan kedua telapak tangan, melindunginya sekuat tenaga.

Pada akhirnya, ia berhasil menjaga nyala yang bergetar itu.

Badai salju liar yang tak berhenti selama puluhan tahun akhirnya reda. Dan pada saat yang sama, ratusan pendekar Murim datang ke Himalaya.

“Sudah menunggu lama?”

Seperti mukjizat, pintu kabin yang terasa tak akan pernah terbuka itu akhirnya terbuka. Seorang pria melangkah masuk.

'Apa aku sedang bermimpi? 

Hari itu begitu membahagiakan hingga terasa seperti mimpi berkabut.

Ia takut terbangun dan kembali ke hari-hari neraka itu. Karena itulah ia berkali-kali memastikan kenyataan ini.

'Ini bukan mimpi.'

Rasa nyeri asing di perut bawahnya mengatakan bahwa momen ini nyata.

Dia adalah pria yang ramah dan penuh perhatian.

Seol Jungyeon juga tahu, ia belum mencintainya.

Meski begitu, ia harus mempertahankannya. Satu-satunya alasan ia masih bisa hidup setelah melepaskan segalanya adalah Yoo Seodam. Dialah pria pertama yang memberinya keinginan untuk hidup dalam lima tahun saat ia ingin mati.

Ia bersyukur hingga jika ia meminta hal yang tak masuk akal sekalipun, ia akan menerimanya.

Alasan ia memintanya melakukan “itu” tadi malam adalah untuk menegaskan kembali alasan dirinya tetap hidup.

Tidak apa-apa.

Ia sudah memutuskan untuk terus hidup. Jadi, tak peduli berapa lama harus menunggu, ia akan tetap menunggu. Dan penantian itu bukan penantian menyiksa melainkan penantian yang manis. Ia bisa menunggu seribu tahun, bahkan sepuluh ribu tahun.

Swoosh!

Teratai mekar dari ujung jarinya. Ia telah melepaskan nama Cheonma dan kini hanyalah Seol Jungyeon. Namun kemampuan untuk membuat teratai mekar dari ujung jarinya masih tetap ada.

'Setidaknya… aku tak boleh menyerahkan posisi pemimpin aliansi Murim yang baru.'

*

Satu bulan telah berlalu sejak aku memburu Supreme Dharma.

Dunia berubah cepat ketika orang-orang mulai memperhatikan kekuatan baru bernama Aliansi Murim.

--- Aliansi Murim, yang mengalahkan monster peringkat SSS penguasa Himalaya, meminta dunia mengakui mereka sebagai pendekar Murim, bukan Hunter.

--- Berikut wawancara dengan Seol Jungyeon, pemimpin Aliansi Murim.

Saat Seol Jungyeon melangkah ke panggung wawancara, sorak sorai menggema dari kejauhan. Para penggemarnya datang menyaksikan wawancara terbuka itu.

Dalam waktu sebulan, popularitasnya meroket. Ia adalah talenta yang belum pernah ada, wajah cantik yang terasa mustahil ditemukan lagi di dunia, dan lebih dari itu, ia juga seorang Hunter peringkat SSS.

Bahkan tiga puluh satu tahun setelah Perang Besar, hanya tiga Hunter peringkat SSS yang muncul dan semuanya kini tidak aktif. Artinya, dialah satu-satunya Hunter SSS aktif di dunia.

Ia memiliki semua yang membuat orang terpikat.

Ia adalah harapan bagi para Hunter yang tak mampu menangani Ether. Pengetahuan bela dirinya, kecantikannya, dan status SSS-rank-nya.

Cepat atau lambat, kekuatan yang mengikutinya pasti akan membesar.

Karena itu, aku jadi sangat sibuk. Para pendekar Murim sama sekali tak paham industri Hunter, jadi mereka benar-benar membutuhkan bantuanku. Dan tentu saja aku tak bisa bekerja sendiri, aku terpaksa meminta bantuan banyak orang. Di antara mereka ada Hunter peringkat F, bahkan mantan eksekutif Asosiasi Hunter.

Mereka lebih paham industri Hunter daripada siapa pun. Park Seong-ho bahkan terbang ke Tiongkok setelah mendengar bahwa Seol Jungyeon bisa menghidupkan kembali martabat Hunter peringkat F yang selama ini diremehkan.

Aliansi Murim.

Mereka belum menerima masyarakat modern sepenuhnya, tapi dunia tak punya pilihan selain memperhatikan, karena merekalah satu-satunya secercah harapan bagi para Hunter lemah untuk mempelajari kemampuan baru.

Guild Aliansi Murim yang baru dibentuk menyerahkan kursi pemimpin pada Seol Jungyeon, sementara hak pengelolaan kembali padaku. Aku menjadikan guild milikku sebagai sub-guild di bawah Aliansi Murim. Pada akhirnya, baik Aliansi maupun guildku dijalankan olehku.

Aku benar-benar sibuk, bukan hanya mengurus pengakuan Aliansi Murim sebagai guild resmi, tapi juga urusan pribadi.

“Aku ingin hidup untuk orang-orang Murim.”

Itu Shin Hye-ji.

Butuh tepat satu bulan baginya untuk bangkit dari kesedihan.

Ia tak bisa menerima kenyataan bahwa ayah yang ia percayai sepenuh hati adalah monster yang paling ia benci. Lebih parah lagi, ia keluar dari akademi dan terpuruk dalam dunia tanpa siapa pun untuk bersandar.

“Nona Hye-ji.”

“Ayahku mencoba menegakkan keadilan yang salah. Ya… aku tak bisa menerimanya.”

Apa yang membuatnya berubah? Aku juga tak tahu. Namun melihat Shin Hye-ji kini jauh lebih teguh dari sebelumnya itu sudah lebih dari cukup.

Dia berkata, “Aku dengar tenaga administrasi untuk mendukung Aliansi Murim masih kurang.”

“Nggak apa-apa… Presiden Park Seong-ho yang mengelolanya sekarang. Jadi Hye-ji nggak perlu khawatir.”

Soalnya, jujur saja, aku juga nggak sanggup… karena otakku memang agak tumpul soal urusan beginian.

“A-aku akan pergi ke Aliansi Murim dan belajar langsung dari Presiden Park Seong-ho. Aku masih sangat kurang, aku tahu terlalu sedikit soal apa pun. Bahkan soal bela diri, mereka jauh lebih hebat dariku…. Setidaknya, aku harus menebus dosa ayahku.”

“Nona Hye-ji. Kamu nggak perlu menebus dosa ayahmu….”

“Tidak! Aku harus melakukannya.”

Nada suaranya tegas, tanpa sedikit pun keraguan.

“Aku akan mengabdikan seluruh hidupku untuk orang-orang Murim. Ilmu bela diriku akan kupakai untuk semua orang. Karena itu… aku punya satu permintaan.”

“Permintaan?”

“Iya. Tolong pasang ban padaku.”

“Hah? Tidak, tunggu, permintaan apa itu….”

“Kumohon.”

Ia berkata dengan suara pelan, tapi penuh tekad.

“Kalau suatu hari aku memakai Mugong ayahku dan berjalan di jalan yang salah… saat itu, Tuan Yoo Seodam, tolong hentikan aku.”

“……baik. Baiklah.”

Pada akhirnya, aku tak punya pilihan selain memasang ban pada Shin Hye-ji. Setelah itu, aku menjelaskan isi ban tersebut padanya,

“Kalau penggunanya menghendaki, dia bisa menghancurkan qi-nya sendiri kapan saja.”

Mungkin karena merasa puas dengan fakta bahwa dirinya tak akan bisa melenceng lagi, Shin Hye-ji langsung keluar dari akademi dan terbang ke Tiongkok. Ke depannya, ia pasti akan melewati banyak trial and error. Ia tak paham industri ini, bahkan tak bisa bercakap tanpa penerjemah. Tapi tantangan terbesarnya justru perbedaan budaya antara Murim dan Bumi modern.

[Beberapa waktu kemudian.]

--- Aku… nggak bisa melakukan itu…

“Aku tahu.”

Sebenarnya, aku sama sekali tidak memasang ban apa pun pada Shin Hye-ji. Dari awal, tak mungkin bagiku memasang ban tingkat tinggi yang bisa memblokir kekuatan magic seseorang kapan pun aku mau. Semua itu hanya aku katakan agar Hye-ji merasa dirinya berada di bawah kendali. Ke depannya, dia akan mengekang dirinya sendiri dengan kehendaknya sendiri.

Pekerjaan mendesakku pun selesai.

Berbanding terbalik dengan Aliansi Murim yang super sibuk, guild milikku, Another League baru saja dibentuk. Dan karena satu anggota sudah pergi, sekarang hanya tersisa dua orang.

'Yah, lebih cepat dari rencana. Apa aku perlu cari anggota baru?'

Setelah berpikir sejenak, aku berbicara pada sistem.

“Tunjukkan statusku.”

<Yoo Seodam.>  

[Level: 140]

Status

[Strength 140] [Stamina 140] [Agility 140]

[Energy 1] [Magic Power 180]

Talent

[Swordsmanship S] [Hunting D+] [Shooting C]

[Cooking D-] [Intuition A] [Quick-wit A]

[Etc…..]

Skill

[Protagonist Hunter Lv. 4]

[White Swordsmanship (S)]

[Sixth Sense (C)]

[Ara-Sunyoung-Sutra (SS+)]

[Library of the White Witch (E)]

[Inventory (S)]

[How to Run Like the Wind (S)]

[Concentration (S+)]

Levelku sekarang 140, dan peringkat skill-ku juga melonjak drastis. Menurut sistem, Hunter peringkat A berada di sekitar level 115, artinya, kekuatanku sekarang jauh melampaui Hunter A-rank. Tapi tentu saja, aku tak boleh besar kepala. Di banyak dunia, ada jauh lebih banyak orang kuat, bahkan ada makhluk dengan peringkat URS atau lebih tinggi, seperti Dharma.

Meski kekuatanku tumbuh lebih cepat dari yang kubayangkan, itu masih belum cukup. Akan ada saatnya aku membutuhkan kekuatan yang lebih besar untuk melindungi diriku sendiri dan orang-orang di sekitarku.

Dan lagi…

'Hell Gate. Untuk sampai ke sana, aku harus jauh lebih kuat dari ini.'

Ekspresiku mengeras saat mengingat apa yang kulihat di dalam Hell Gate.

Ada yang bilang aku tak melihat apa-apa, bahwa aku tak sadar waktu itu, bahwa pikiranku kacau hingga tak bisa membedakan kenyataan dan ilusi.

Namun aku sepenuhnya percaya pada apa yang kulihat.

Reina Ju.

Dunia lain di balik Hell Gate. Dan punggungnya yang kulihat di sana, meski semua orang berkata dia sudah mati.

“Huuuh… Sistem. Kamu bilang kamu belum bisa menemukan dimensi yang kuinginkan?”

<Benar. Karena kekuatanku masih kurang… maaf.>

“Tidak. Jangan dipikirkan.”

<Jika level Protagonist Hunter meningkat, kekuatanku juga akan bertambah. Saat itu, mungkin aku bisa menemukannya.>

“Baik.”

Skill Protagonist Hunter naik ke level 4 setelah aku berhasil memburu Lee Dong-joon. Jumlah item yang bisa kubawa antar dunia juga meningkat karena Inventory naik ke peringkat S.

Yang lebih penting lagi, frasa

[Anda bisa mengintervensi alur cerita] dan

[Perbedaan waktu kini bisa disesuaikan]

memiliki arti yang sangat besar.

Perbedaan waktu. Itu juga yang paling penting bagiku sekarang, karena aku masih punya banyak urusan di Bumi modern. Tak seperti dulu, aku tak bisa lagi menghabiskan berbulan-bulan di dunia lain. Sekarang, terlalu banyak orang yang mencariku.

“Kalau begitu… ayo ambil misi berikutnya.”

<Baik. Oh, sebelum itu, ada satu hal yang akhir-akhir ini menggangguku….>

“Apa?”

<Um… tidak jadi. Masih belum jelas. Nanti akan kuberitahu.>

“Baiklah. Tunjukkan daftar misinya.”

Saat aku hendak menerima daftar misi, tiba-tiba

[Skill ‘Library of the White Witch (E)’ telah naik ke peringkat D.]

[Akses perpustakaan peringkat D dan penalti….]

[…]

[Penalti telah dihapuskan.]

Aku langsung berdiri begitu melihat pesan itu.

“Apa yang terjadi? Kenapa peringkatnya tiba-tiba naik?”

Aku segera mengaktifkan Library of the White Witch dan masuk ke dunia imajiner itu. Saat melihat sekeliling, buku-buku magic beterbangan di udara, kembali ke tempatnya masing-masing. Aku melewati perpustakaan peringkat E, berjalan hingga ujung koridor dan di sana, pintu menuju Perpustakaan Peringkat D terbuka lebar.

Glek.

“A-aku benar-benar bisa masuk tanpa penalti?”

[Penalti telah dihapuskan.]

“Serius… aku bisa masuk?”

[Penalti telah dihapuskan.]

Akhirnya, aku memutuskan mempercayai perpustakaan itu dan melangkah masuk perlahan ke Perpustakaan Peringkat D.

Di dalam

“Ah? Kamu datang?”

“……Kamu, ngapain di sini?”

“Ah. Yah, aku pikir ada buku yang lebih menarik di sini, jadi aku masuk.”

“Bukan itu, bagaimana caranya kamu bisa masuk?”

“Hm? Aku cuma buka pintunya lalu masuk… Eh???ini tempat yang nggak boleh dimasuki ya? Maaf.”

“Bukan… bukan begitu….”

Yekaterina sedang membaca sebuah buku sebesar tubuhnya sendiri. Ia duduk di sudut Perpustakaan Peringkat D, rambut putihnya terurai jatuh.

Aku benar-benar linglung, sampai tanpa sadar bergumam

“Kamu ini… Emang Witch yang asli….”

0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram